Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Tanggul Laut Raksasa Hanya Solusi Sementara Cegah Jakarta Tenggelam?

May 3, 2024

by Fahma Ainurrizka

Pembangunan giant sea wall di Jakarta menjadi sorotan sebagai langkah besar dalam menanggulangi banjir dan potensi tenggelamnya ibu kota. Di sisi lain, adanya dampak lingkungan yang mungkin timbul, seperti perubahan ekosistem pesisir dan kerusakan habitat laut juga menjadi pertimbangan. Apakah pembangunan ini adalah solusi yang tepat? Yuk, kita simak penjelasan Jerhemy Owen yang menyambangi langsung pembangunan megaproyek ini!

Owen di Tanggul Laut Raksasa Jakarta, Muara Karang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Hai TeMantappu!

Pemerintah membangun tanggul laut raksasa di kawasan utara Jawa, mulai dari wilayah timur hingga barat. Tanggul raksasa tersebut dikenal sebagai Giant Sea Wall dengan total pembiayaan sekitar Rp 164,1 triliun untuk wilayah Jakarta saja.

Langkah ini digadang sebagai upaya menanggulangi persoalan banjir rob yang kerap melanda ibu kota, serta sebagai langkah menyelamatkan Jakarta dari ancaman tenggelam akibat kenaikan permukaan air laut, lho.

Meski demikian, banyak pihak mulai mempertanyakan keefektifan mega proyek ini dalam menuntaskan akar masalah sebenarnya. Mereka mengkhawatirkan kemungkinan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti mempercepat kepunahan keanekaragaman hayati yang ada di perairan pulau Jawa bagian utara.

Kali ini, Jerhemy Owen sempat menyambangi langsung pembangunan mega proyek tanggul laut raksasa Jakarta di Muara Karang. Apakah benar mega proyek ini solusi tepat yang kita butuhkan? Yuk, kita bahas bareng Owen!

Apa itu Tanggul Laut Raksasa Jakarta?

Owen di Tanggul Laut Raksasa Jakarta, Muara Karang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

“Laut dan daratan cuma dibatasi sama tembok, Guys! Kalau kalian perhatiin, air lautnya itu udah lebih tinggi daripada daratannya,” ucap Owen mendeskripsikan kondisi di tanggul laut raksasa Jakarta sana.

Tanggul Laut Raksasa Jakarta, atau dikenal sebagai The Great Sea Wall of Jakarta, merupakan proyek infrastruktur ambisius yang dirancang untuk mengatasi ancaman tenggelamnya Jakarta akibat banjir rob dan kenaikan permukaan air laut. “Ini adalah salah satu cara pemerintah buat menghindari masalah tenggelamnya Jakarta,” jelas Owen.

Jakarta menghadapi ancaman serius akan tenggelam, dan salah satu faktor utamanya adalah perubahan iklim. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh perilaku manusia dalam jumlah besar.

Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, berkontribusi pada pemanasan global dan kenaikan suhu rata-rata atmosfer. Hal ini menyebabkan pencairan es di kutub dan gunung es, yang pada gilirannya meningkatkan volume air laut.

Di samping itu, praktik-praktik seperti reklamasi tanah, penurunan tanah, dan kurangnya tata kelola air yang baik juga memperburuk situasi, juga membuat Jakarta semakin rentan terhadap banjir dan ancaman tenggelam yang mengkhawatirkan.

Masjid Wal Adhuna: Masjid yang Digerus Air Laut

Masjid Wal Adhuna di Tanggul Laut Raksasa Jakarta | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Owen juga memotret kondisi Masjid Wal Adhuna di sana. Dulunya, masjid ini tegak megah di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, kini menjadi saksi bisu dari perlahan tenggelamnya ibu kota akibat naiknya permukaan air laut dan penurunan tanah.

Terletak di balik tanggul besar penahan air laut, masjid ini sebagian besar terendam air. Dinding yang dulunya berwarna putih kini sudah terkelupas, digantikan oleh lumut-lumut yang tumbuh subur.

Banjir rob yang sering terjadi di daerah tersebut mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun tanggul raksasa disana. Sayangnya, pembangunan tanggul tersebut terpaksa menutup akses menuju masjid, membuat rumah ibadah itu terisolasi dan tenggelam oleh derasnya air laut.

Owen juga menjelaskan kalau semua bangunan di sekitar tanggul sudah digusur dan dipindahkan karena adanya waspada bahaya.

Apakah Tanggul Laut Raksasa Jakarta Solusi Sebenarnya?

Owen di Tanggul Laut Raksasa Jakarta, Muara Karang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

“Pertanyaannya, apakah Jakarta benar-benar bisa diselamatkan hanya dengan dinding raksasa seperti ini?” tanya Owen menyoroti masalah serius yang terjadi di sekitar tanggul.

“Ini bukan sekadar bocornya air, tetapi air laut yang merembes masuk ke daratan Jakarta,” jelas Owen saat melihat air laut merembes keluar dari dinding tanggul. Padahal, pembangunan tanggul dimulai sejak 2014 dengan biaya triliunan rupiah.

Owen juga memberi tahu kalau semua bangunan di sekitar tanggul sudah digusur dan dipindahkan karena situasinya sangat berbahaya. “Bisa dibayangkan gimana kalau tembok ini nggak mampu menahan tekanan air laut dan rubuh?”

Bagi Owen, pembangunan tanggul ini hanya merupakan solusi sementara. “Dengan atau tanpa tanggul ini, Jakarta tetap terancam tenggelam. Kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global dan penurunan permukaan tanah Jakarta karena eksploitasi air tanah akan terus berlanjut,” jelasnya. Penurunan tanah ini bahkan bisa mencapai 10-20 cm per tahun, lho.

Walhi, organisasi non-pemerintah (NGO) yang vokal dalam isu lingkungan, menyatakan kalau megaproyek tersebut nggak cukup menyelesaikan akar masalah degradasi ekologis Pulau Jawa, yang selama ini dieksploitasi oleh industri ekstraktif baik di darat maupun di pesisir, laut, dan pulau kecil.

Jadi, jikalau pemerintah benar-benar pengin menghentikan penurunan tanah di pesisir utara Jawa, solusinya bukanlah dengan membangun tanggul laut raksasa, tetapi dengan mengevaluasi dan mencabut izin-izin industri besar di sepanjang pesisir utara Jawa.

***

Gimana menurutmu, TeMantappu? Kayaknya sangatlah penting, ya, buat menggabungkan upaya mitigasi perubahan iklim, pelestarian ekosistem, serta kebijakan pengelolaan lahan yang lebih bijaksana. Selain itu, tentunya perlu buat melibatkan partisipasi masyarakat, dong, ya?

Media Sosial Jerhemy Owen

Biar tetap terhubung dengan cerita menarik seputar Belanda serta berbagai fakta menarik dan pengalaman unik yang bisa menjadi sumber inspirasi dan insight baru, ikuti media sosial Owen di bawah ini:

Artikel Terkait

Tonton Owen menanam 100 pohon mangrove!

Recent Posts

Alexander-Matthew-di-Jerman

CCTV dan AC Lumrah di Indonesia, tapi Jarang Ada di Jerman?

Matthew dalam kontennya memang sering membahas berbagai aspek terkait Jerman dari A-Z. Kali ini, ia menyoroti hal-hal yang umum dijumpai di Indonesia, tetapi langka atau bisa disebut barang yang nggak biasa di Jerman. Penasaran apa saja? Yuk, kita simak!

Jerhemy-Owen-di-Pembangkit-Listrik-Tenaga-Surya-Terapung-terbesar-di-ASEAN

Gaji Tukang Sampah di Belanda Mencapai Dua Digit?

Jerhemy Owen sering mengulas berbagai aspek kehidupan di Belanda, mulai dari kebudayaan, warisan sejarah, hingga lingkungan di sana. Kali ini, Owen membawa kita menelusuri sudut pekerjaan yang mungkin jarang dibahas, yaitu profesi tukang sampah. Kira-kira berapa, sih, gaji tukang sampah di Belanda? Yuk, kita bahas bareng Owen!

Dokter Ekida Rehan

Dokter Ekida: Bahaya Cuci Hidung dengan Air Keran

Beberapa waktu belakangan, sempat ramai fenomena cuci hidung karena banyaknya kasus pilek yang sedang merebak. Namun, di tengah maraknya praktik tersebut, beberapa orang tergoda mencoba mencuci hidung dengan menggunakan air keran dan selang. Pertanyaannya: apakah praktik ini diperbolehkan atau bahkan aman dilakukan? Yuk, kita telusuri penjelasan lebih lanjut dari Dokter Ekida!