Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Mengulik Gunung Sampah Tertinggi di Indonesia Bareng Jerhemy Owen

April 23, 2024

by Fahma Ainurrizka

Hari ini, tepat 23 April, adalah perayaan International Creator Day. TeaMantappu berkesempatan mewawancarai Jerhemy Owen, seorang kreator konten yang mengambil studi teknik lingkungan di Belanda dan aktif sebagai Decarbonization Journey Intern di WRI Indonesia. Cerita perjalanan Owen sebagai kreator konten tak lengkap kalau nggak membahas kunjungannya ke gunung sampah di TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Bantar Gebang. Yuk, kita telusuri pengalaman Owen mengunjungi gunung sampah terbesar di Indonesia ini!

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Hai TeMantappu!

Bagi kamu yang prihatin dengan isu lingkungan, TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Bantar Gebang bukanlah hal asing lagi. Beroperasi sejak tahun 1989, TPST ini telah menjadi salah satu fasilitas utama untuk memproses sampah dari penduduk DKI Jakarta. Dengan ketinggian mencapai 40 meter, setara dengan gedung bertingkat 16 lantai, gunung sampah ini mencerminkan kompleksitas pengelolaan sampah di Indonesia.

Dalam rangka merayakan International Creator Day sekaligus mengapresiasi kreator konten yang telah menghadirkan ragam konten terbaiknya, TeaMantappu berkesempatan mewawancarai Jerhemy Owen, kreator konten yang mengambil langkah berani mengunjungi TPST Bantar Gebang.

Di sini, kami nggak hanya membicarakan pengalaman Owen kala mengunjungi TPST Bantar Gebang, tetapi sekaligus menyinggung upaya Owen dalam menginspirasi kesadaran akan isu lingkungan di tengah masyarakat. Yuk, kita simak!

Melihat Wajah TPST Bantar Gebang

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Owen membagikan pengalaman menariknya selama dua kali mengunjungi TPST Bantar Gebang. Ia menjelaskan kalau, “Apapun sampah yang kamu cari ada di sini,” sembari mengingat kembali berbagai jenis sampah yang pernah ia temui, mulai dari sofa hingga sandal, sampai pakaian dalam.

Menariknya, data Portal Resmi Unit Pengelola Sampah Terpadu, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta (2024) menyebutkan kalau limbah sisa makanan mendominasi komposisi sampah di TPST Bantar Gebang, loh, dengan persentase mencapai 43 persen dari total limbah padat kota yang masuk setiap harinya. Di samping itu, sampah plastik juga menjadi perhatian utama, menduduki posisi kedua dengan persentase mencapai 28 persen.

Komposisi sampah lainnya yang juga menempati porsi yang signifikan di antaranya ada limbah tekstil (delapan persen), sampah B3 (tiga persen), kayu dan rumput (empat persen), kertas (lima persen), karet atau kulit (tiga persen), limbah hewan peliharaan (tiga persen), dan sampah lainnya (tiga persen).

Ubah Sampah Menumpuk Jadi Sumber Energi

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Melihat dengan prihatin pertumbuhan gunung sampah yang semakin tinggi di TPST Bantar Gebang dari tahun ke tahun, Owen berbagi soal pengelolaan sampah yang ia ketahui. Menurutnya, ketika sampah telah tercampur dan nggak dipilah, pengolahan yang paling utama adalah mengubahnya menjadi energi, terutama listrik dan panas. “Yang paling utama bisa kita jadikan listrik. Selain itu, dibakar dijadikan energi panas juga bisa,” sarannya. 

Owen juga menambahkan kalau sampah low value, seperti kemasan sekali pakai, dapat didaur ulang menjadi sejumlah produk turunan semisal bahan pencampuran pada aspal atau batu dan bahan bangunan.

Namun, Owen menekankan kalau pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi cukup sulit jika sampah tersebut sudah tercampur. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemilahan sampah sebagai langkah utama dalam pengelolaan sampah yang efektif. “Makanya yang paling penting dilakukan adalah dipilah,” tukasnya.

Bantar Gebang “Mendunia” sebagai TPST Terbesar di Asia

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Saat ditanya tujuannya mengunjungi TPST Bantar Gebang, Owen mengaku berbekal rasa penasaran. “Aku penasaran dengan tempat pembuangan sampah terbesar di Asia Tenggara–kalau di Indonesia sudah pasti. Kalau nggak salah di Asia Tenggara juga iya,” jawabnya.

Owen melalui kunjungannya ke TPST Bantar Gebang ingin melihat langsung kondisi sebenarnya dari TPST Bantar Gebang juga mengamati kehidupan sehari-hari penduduk setempat. Melalui itu, ia juga mendokumentasikan pengalamannya itu untuk kemudian dibagikan di media sosial.

“Pengin lihat bentuknya kayak gimana, apakah separah yang dibayangkan. Terus, pengin lihat kondisi aslinya kayak orang-orang di sana seperti apa, pemulungnya, sistemnya, ada apa aja, dan pengin dokumentasiin buat dibagiin ke sosmed supaya orang-orang tahu ‘Oh, kondisi Bantar Gebang tuh sekarang kayak gini,’” jelasnya.

Dengan timbunan sampah sebesar itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Asep Kuswanto, melalui CNN Indonesia sampai-sampai mengungkapkan kalau kapasitas TPST Bantargebang hampir mencapai batas maksimal dengan timbulan mencapai 7.800 ton per hari, lho.

Tips Bagi Kamu yang Pengin Mengunjungi TPST Bantar Gebang

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Pertama-tama, Owen merekomendasikan untuk selalu membawa masker saat mengunjungi TPST Bantar Gebang sebab bau nggak sedap di sana amatlah menyengat. Meskipun menimbulkan bau tak terhindarkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berusaha memberikan kompensasi kepada warga setempat, lho. Sebagai imbalan atas ketidaknyamanan yang mereka alami, warga setempat menerima kompensasi sebesar Rp400.000 per bulan.

Selain itu, penting juga untuk membawa antiseptik berbahan dasar alkohol ataupun tisu basah dan tisu kering buat membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan selama di sana.

Yang tak kalah pentingnya, tentu, adalah persiapan mental. “Dan yang pastinya bawa mental dan persiapan (diri) kalian melihat gunungan sampah sangat tinggi di Bantar Gebang,” tambah Owen.

Harapan Owen Teruntuk TPST Bantar Gebang

Owen di TPST Bantar Gebang | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Owen berharap suatu hari nanti TPST Bantar Gebang dapat ditutup, dan nggak akan ada lagi gunungan sampah yang menumpuk di lokasi tersebut. Ia berharap agar semua jenis sampah dapat diolah dengan baik tanpa perlu ditumpuk menjadi gunungan sampah. Dengan demikian, lingkungan sekitar TPST Bantar Gebang bakal menjadi lebih bersih, bebas polusi, dan ramah lingkungan.

“Semoga juga gunungan sampah yang ada di Bantar Gebang bisa diolah sehingga nggak berbahaya buat lingkungan dan nggak berbahaya buat orang-orang di sana. Jadinya, lebih ramah lingkungan, lebih enak juga gitu, loh, buat kita semua,” tutupnya.

***

Wah, sepertinya harapan Owen mencerminkan harapan banyak orang, ya? Pesannya menjadi pengingat yang kuat bagi kita kalau masalah sampah masih nyata dan memerlukan penanganan serius. Sekali lagi, selamat merayakan International Creator Day untuk Owen dan semua talent Mantappu Corp. Yuk, terus semangat dalam membikin konten bermanfaat bagi semua orang!

Media Sosial Jerhemy Owen

Biar tetap terhubung dengan cerita menarik seputar Belanda serta berbagai fakta menarik dan pengalaman unik yang bisa menjadi sumber inspirasi dan insight baru, ikuti media sosial Owen di bawah ini:

Artikel Terkait

Tonton kolaborasi Clean-up Day Owen bersama Pandawara di sini!

Recent Posts

Alexander-Matthew-di-Jerman

CCTV dan AC Lumrah di Indonesia, tapi Jarang Ada di Jerman?

Matthew dalam kontennya memang sering membahas berbagai aspek terkait Jerman dari A-Z. Kali ini, ia menyoroti hal-hal yang umum dijumpai di Indonesia, tetapi langka atau bisa disebut barang yang nggak biasa di Jerman. Penasaran apa saja? Yuk, kita simak!

Jerhemy-Owen-di-Pembangkit-Listrik-Tenaga-Surya-Terapung-terbesar-di-ASEAN

Gaji Tukang Sampah di Belanda Mencapai Dua Digit?

Jerhemy Owen sering mengulas berbagai aspek kehidupan di Belanda, mulai dari kebudayaan, warisan sejarah, hingga lingkungan di sana. Kali ini, Owen membawa kita menelusuri sudut pekerjaan yang mungkin jarang dibahas, yaitu profesi tukang sampah. Kira-kira berapa, sih, gaji tukang sampah di Belanda? Yuk, kita bahas bareng Owen!

Dokter Ekida Rehan

Dokter Ekida: Bahaya Cuci Hidung dengan Air Keran

Beberapa waktu belakangan, sempat ramai fenomena cuci hidung karena banyaknya kasus pilek yang sedang merebak. Namun, di tengah maraknya praktik tersebut, beberapa orang tergoda mencoba mencuci hidung dengan menggunakan air keran dan selang. Pertanyaannya: apakah praktik ini diperbolehkan atau bahkan aman dilakukan? Yuk, kita telusuri penjelasan lebih lanjut dari Dokter Ekida!