Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Keunikan Eskalator di Jerman: Apa Bedanya dengan di Indonesia?

May 22, 2024

by Fahma Ainurrizka

Banyak sisi lain dari Jerman yang jauh berbeda dari Indonesia. Kali ini, Matthew menyusuri fakta unik tentang perbedaan mencolok antara eskalator di Jerman dan di Indonesia. Kira-kira, apa, sih, perbedaannya? Yuk, kita bahas lebih lanjut!

Alexander Matthew, talent Mantappu Corp. | Sumber: Instagram/alexandrmatthew_

Halo, TeMantappu!

Di Indonesia, eskalator umumnya terbagi menjadi dua sisi yang terpisah dengan jelas: satu untuk naik dan satu lagi untuk turun. Tapi, Matthew menemukan fakta menarik kalau di Jerman, penggunaan eskalator memiliki beberapa perbedaan yang mencolok dengan praktik di Indonesia.

Salah satu perbedaan yang mencolok adalah penggunaan eskalator dua arah di Jerman. Eskalator ini dapat digunakan baik untuk naik maupun turun, memberi fleksibilitas yang lebih besar dalam penggunaannya. Yuk, kita bahas bareng Matthew!

Eskalator Dua Arah di Jerman

Alexander Matthew menjelaskan perbedaan eskalator di Jerman dan di indonesia. | Sumber: TikTok/alexandrmatthew_

“Satu eskalator bisa untuk dua arah. Tergantung siapa yang lagi pakai,” ungkap Matthew menjelaskan cara kerja eskalator di Jerman.

Matthew menjelaskan kalau di Jerman, ada eskalator yang memiliki tanda dua arah, yang artinya eskalator tersebut dapat berfungsi baik untuk naik maupun turun sesuai kebutuhan. Ini bisa disebut fitur yang nggak umum ditemukan di Indonesia, di mana eskalator biasanya hanya berfungsi satu arah, baik naik atau turun, dan nggak bisa diubah arah penggunaannya.

Fitur lain yang menarik dari eskalator di Jerman adalah efisiensi energinya. Eskalator ini dirancang untuk mati atau berhenti ketika nggak ada pergerakan yang terdeteksi. Jadi, kalau nggak ada orang yang menggunakan eskalator, ia akan berhenti beroperasi untuk menghemat energi. Tapi, ketika seseorang mendekati eskalator, sensor yang terpasang di atasnya akan mendeteksi pergerakan dan eskalator akan mulai bergerak kembali.

Selain efisiensi energi, fitur ini juga meningkatkan umur panjang dari eskalator itu sendiri, lho, karena nggak beroperasi terus-menerus tanpa adanya pengguna. Teknologi ini nggak hanya memperbaiki efisiensi penggunaan energi, tetapi juga memperpanjang masa pakai perangkat tersebut, mengurangi biaya pemeliharaan jangka panjang.

Matthew Mencoba Eskalator Dua Arah di Jerman

Alexander Matthew menjelaskan perbedaan eskalator di Jerman dan di indonesia. | Sumber: TikTok/alexandrmatthew_

Matthew juga sempat mencoba inovasi eskalator dua arah ini di Jerman. Ia mencoba naik turun lantai dengan menggunakan satu eskalator yang sama.

“Jadi hemat dan efisien banget,” komentar Matthew. Eskalator ini nggak hanya menghemat energi tetapi juga mengoptimalkan penggunaan ruang dan waktu.

Tapi, eskalator tipe begini cocok diterapkan di Indonesia nggak, sih?

Kayaknya perlu dipastikan ulang infrastruktur pendukung seperti ukuran dan desain tempat, serta kebiasaan penggunaan eskalator, udah sesuai atau belum biar kenyamanan pengguna tetap menjadi prioritas utama.

Dan yang pasti, edukasi bakalan sangat penting! Ini buat membantu mengurangi kemungkinan kebingungan atau kecelakaan saat penggunaan eskalator sekaligus meningkatkan kesadaran akan manfaat dan cara optimal untuk menggunakan eskalator dua arah. 

Nggak lucu, dong, saat teknologi yang seharusnya membuat penggunaan eskalator lebih efisien malah nantinya mengakibatkan antrian yang panjang? Hihi. 

***

Jadi, gimana menurutmu TeMantappu kalau eskalator dua arah ini diterapkan di Indonesia? Cocok atau nggak, ya?

Media Sosial Alexander Matthew

Mau tahu lebih banyak tentang fakta lain seputar Jerman? Ikuti media sosial Matthew di bawah ini biar nggak ketinggalan upcoming updates dari Matthew:

Artikel Terkait

Recent Posts

Hitomi talent Mantappu Corp.

Ribbon Hairstyle Ala Hitomi: Simpel dan Manis!

Hitomi berbagi variasi hairstyle dengan ribbon. Mulai dari kuncir kuda dengan kesan chic dan fresh, sampai kepang berlilit pita yang kelihatan girly. Yuk, kita simak berbagai kreasi ribbon hairstyle dari Hitomi! Siapa tahu kamu bisa menemukan gaya rambut favorit yang bisa kamu coba sendiri di rumah.

Cecilia Amalo

Cecilia Amalo Jelajahi Kantin di Osaka Shoin Women’s University

Cecilia Amalo, yang akrab dipanggil Cecil, awal tahun ini memulai petualangan barunya dengan kuliah di Jepang, lho. Ia diterima di Osaka Shoin Women’s University. Sebagai mahasiswa baru, Cecil tentunya antusias mengeksplorasi fasilitas-fasilitas kampus barunya ini. Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah kantin kampus. Di sana, banyak food truck yang berjajar menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Yuk, kita simak keseruannya!

Tomohiro Yamashita mencoba es dawet di Pasar Gedhe Solo

Tomohiro Kunjungi Pasar Tradisional di Indonesia

Tomohiro Yamashita kali ini mengunjungi salah satu pasar lokal yang terkenal di Solo, Jawa Tengah, yaitu Pasar Gede. Kira-kira, gimana, ya, reaksi Tomohiro ketika melihat pasar tradisional di Indonesia untuk pertama kalinya? Sebagaimana kita tahu, di Jepang masyarakat lebih familiar dengan supermarket yang serba modern dan efisien. Pasar tradisional di Jepang memang ada, tetapi nggak sepopuler dan semeriah pasar tradisional di Indonesia yang nyaris selalu penuhi. Jadi, yuk kita simak lebih lanjut pengalaman seru Tomohiro Yamashita saat menjelajahi Pasar Gede di Solo!