Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Jerhemy Owen Kunjungi Gedung Konferensi Meja Bundar di Belanda

May 21, 2024

by Fahma Ainurrizka

Selain membahas topik lingkungan, Jerhemy Owen kerap mengajak kita menjelajahi warisan sejarah Indonesia di Belanda. Kali ini, Owen mengunjungi salah satu tempat bersejarah krusial, yakni gedung tempat dilangsungkannya Konferensi Meja Bundar di Belanda. Yuk, kita pahami seluk-beluk gedung KMB ini sebagai saksi penting hubungan antara Indonesia dan Belanda!

Jerhemy Owen di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda | Sumber: Instagram/@jerhemynemo

Hai, TeMantappu!

Setelah mengikuti petualangan di Tropenmuseum, museum Indonesia di Belanda, dan menjelajahi Pameran Indonesia Raya di Belanda. Kali ini, Owen mengajak kita untuk melangkah lebih jauh menyelami jejak sejarah Indonesia di tanah Belanda.

Dalam perjalanan ini, kita akan menjelajahi tempat yang memiliki peranan penting dalam sejarah diplomasi Indonesia-Belanda. Yup, kita akan mengunjungi tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda. Penasaran? Yuk, kita bahas!

Konferensi Meja Bundar: Langkah Menuju Kedaulatan

Jerhemy Owen di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda | Sumber: TikTok/jerhemynemoo

“Dulu, tokoh-tokoh di Indonesia kayak Moh Hatta dan Dr. Soepomo mengunjungi KMB di Belanda untuk berdiskusi selama seminggu antara Indonesia dan Belanda yang akhirnya menjadi kesepakatan KMB, Guys,” jelas Jeremy Owen.

Yup, masih ingatkah kamu, delegasi dari Indonesia yang diwakili oleh Mohammad Hatta, Mohammad Roem, dan Prof. Dr. Soepomo pada tahun 1949 mengunjungi tempat perundingan Konferensi Meja Bundar di Belanda, lho. Konferensi ini berlangsung selama seminggu penuh dan menjadi momen penting dalam sejarah kedua negara ini.

Konferensi Meja Bundar (KMB) berlangsung di Den Haag, Belanda, pada 23 Agustus hingga 2 November 1949. KMB melibatkan perwakilan Republik Indonesia Serikat (RIS), Belanda, dan Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) sebagai perwakilan berbagai negara yang dibentuk oleh Belanda di Kepulauan Indonesia.

Dalam konferensi ini, para delegasi dari Indonesia, Belanda, dan negara-negara lain bertemu untuk membahas masa depan Indonesia dan menyelesaikan konflik yang telah berlangsung lama.

Gedung Ridderzaal (Bangsa Kesatria), gedung Parlemen di Den Haag, menjadi saksi tempat berlangsungnya KMB.

Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai wakil presiden merangkap perdana menteri RI menuturkan, “Pada tanggal 23 Agustus 1949 Konferensi Meja Bundar dibuka di Den Haag, bertempat di ruangan Ridderzaal. Pada tanggal 29 Oktober konferensi itu selesai dan Konstitusi Republik Indonesia Serikat diparaf di Scheveningen.” (Mohammad Hatta dalam Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan, 2011: 217).

Owen menjelaskan suasana di sekitarnya dan bagaimana tempat ini menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa bersejarah, termasuk KMB. Dengan latar belakang gedung parlemen yang megah, Owen memberikan penjelasan tentang konteks historis dari konferensi tersebut dan dampaknya terhadap hubungan Indonesia dan Belanda.

Pentingnya Konferensi Meja Bundar bagi Indonesia

Konferensi Meja Bundar (KMB) menjadi salah satu kesepakatan penting dalam Perjanjian Roem-Royen dengan tujuan mengakhiri perselisihan antara Indonesia dan Belanda. KMB dirancang untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan adil dan cepat.

“KMB ini penting banget buat Indonesia karena salah satu hasilnya adalah pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia sebagai Negara Republik Indonesia Serikat. Sehingga, melalui KMB, Indonesia diakui sebagai sebuah negara merdeka oleh Belanda,” jelas Owen.

Konferensi Meja Bundar memiliki makna yang sangat penting bagi Indonesia, menandai akhir dari masa kolonial dan dimulainya era baru sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Melalui perjalanan menarik ini, kita nggak hanya memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah Indonesia-Belanda, tetapi juga memahami pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan konflik dan mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan.

***

Yup, dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti tempat berlangsungnya Konferensi Meja Bundar, kita dapat lebih menghargai warisan sejarah yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita. Sebab, setiap jejak sejarah, mulai dari kesepakatan diplomatik hingga momen-momen penting dalam perjuangan kemerdekaan, memiliki nilai dan makna yang tak ternilai bagi pembangunan identitas dan peradaban kita. Kita nantikan terus konten terbaru dari Owen, ya!

Media Sosial Jerhemy Owen

Mau mendapat informasi terkini tentang acara-acara terkait Indonesia di Belanda? Ikuti perkembangan terbaru melalui media sosial Owen di bawah ini, ya:

Artikel Terkait

Tonton documentary vlog green energy dari Owen di sini!

Recent Posts

Hitomi talent Mantappu Corp.

Ribbon Hairstyle Ala Hitomi: Simpel dan Manis!

Hitomi berbagi variasi hairstyle dengan ribbon. Mulai dari kuncir kuda dengan kesan chic dan fresh, sampai kepang berlilit pita yang kelihatan girly. Yuk, kita simak berbagai kreasi ribbon hairstyle dari Hitomi! Siapa tahu kamu bisa menemukan gaya rambut favorit yang bisa kamu coba sendiri di rumah.

Cecilia Amalo

Cecilia Amalo Jelajahi Kantin di Osaka Shoin Women’s University

Cecilia Amalo, yang akrab dipanggil Cecil, awal tahun ini memulai petualangan barunya dengan kuliah di Jepang, lho. Ia diterima di Osaka Shoin Women’s University. Sebagai mahasiswa baru, Cecil tentunya antusias mengeksplorasi fasilitas-fasilitas kampus barunya ini. Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah kantin kampus. Di sana, banyak food truck yang berjajar menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Yuk, kita simak keseruannya!

Tomohiro Yamashita mencoba es dawet di Pasar Gedhe Solo

Tomohiro Kunjungi Pasar Tradisional di Indonesia

Tomohiro Yamashita kali ini mengunjungi salah satu pasar lokal yang terkenal di Solo, Jawa Tengah, yaitu Pasar Gede. Kira-kira, gimana, ya, reaksi Tomohiro ketika melihat pasar tradisional di Indonesia untuk pertama kalinya? Sebagaimana kita tahu, di Jepang masyarakat lebih familiar dengan supermarket yang serba modern dan efisien. Pasar tradisional di Jepang memang ada, tetapi nggak sepopuler dan semeriah pasar tradisional di Indonesia yang nyaris selalu penuhi. Jadi, yuk kita simak lebih lanjut pengalaman seru Tomohiro Yamashita saat menjelajahi Pasar Gede di Solo!