Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Cerita Na Daehoon Menghadapi Culture Shock di Indonesia

June 10, 2024

by Fahma Ainurrizka

Kali ini, Na Daehoon balik lagi bareng geng barunya yang diberi nama Ahjussi Gaul. Mereka berkumpul ngomongin pengalaman unik dan mengejutkan yang mereka alami selama menetap di Indonesia, atau yang sering disebut sebagai culture shock. Mereka mengupas tuntas perbedaan budaya dan kebiasaan sehari-hari yang mereka temui di Indonesia. Yuk, kita simak obrolan mereka!

Na Daehoon dan Ahjussi Gaul (Park Nam, Jeje, Minkyu) | Sumber: Instagram/daehoon_na

Annyeonghaseyo yeorobun!

Kali ini, Na Daehoon hadir bersama dua anggota geng Ahjussi Gaul, yaitu Park Nam dan Jeje. Park Nam telah tinggal di Indonesia selama 9 tahun, sementara Jeje sudah menetap di Indonesia selama 15 tahun. Na Daehoon sendiri sudah tinggal di Indonesia selama 14 tahun, sejak tahun 2003, lho.

Mereka bertiga ngobrol tentang berbagai culture shock yang mereka alami selama menetap di Indonesia. Mulai dari perbedaan dalam kebiasaan sehari-hari, makanan khas, hingga norma-norma sosial yang berbeda dengan yang ada di Korea Selatan. Nggak hanya itu, mereka juga akan mengungkapkan cara mereka beradaptasi dengan lingkungan baru. 

Penasaran dengan cerita lengkapnya? Yuk, kita simak percakapan mereka yang pastinya makin membuka wawasan kita tentang perbedaan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan!

Culture Shock Pertama: Air Kobokan dan Kebiasaan Cebok Pakai Tisu

Na Daehoon menjelaskan culture shock tinggal di Indonesia | Sumber: YouTube/AADAEHOON

Di tahun 2003, ketika pertama kali tiba di Indonesia, Na Daehoon mengalami salah satu culture shock yang berhubungan dengan kebiasaan di kamar mandi. “Di kamar mandi nggak ada tisu. Jadi mau nggak mau harus cebokan,” ujar Daehoon mengingat pengalamannya. Baginya, ini adalah hal yang sangat berbeda dari kebiasaan di Korea Selatan, di mana tisu selalu tersedia di kamar mandi.

Jeje juga punya cerita serupa dari awal kepindahannya ke Indonesia, khususnya pas tinggal di Cibubur. “Suatu hari, saat lagi makan di restoran di mal, tiba-tiba staf restoran ngasih semangkuk air. Aku kira itu air untuk diminum, jadi hampir saja aku minum,” katanya sambil tertawa. “Stafnya langsung datang dan memberi tahu kalau itu bukan air minum, tapi air kobokan atau air untuk mencuci tangan.”

Di Korea Selatan, air yang disajikan di meja restoran biasanya untuk diminum, sementara di Indonesia, air kobokan disediakan untuk mencuci tangan sebelum makan, biasanya buat mempermudah makan pakai tangan. Banyak orang Korea yang pertama kali datang ke Indonesia mengira air kobokan adalah semacam air detox, karena tampilannya yang bersih dan segar.

Culture Shock Kedua: Tukang Parkir dan Pekerjaan Pinggir Jalan

Jeje menjelaskan culture shock tinggal di Indonesia | Sumber: YouTube/AADAEHOON

Pengalaman culture shock kedua yang dialami oleh Na Daehoon dan teman-temannya adalah kehadiran tukang parkir dan pekerja jalanan. “Di sini, hampir di setiap tempat ada tukang parkir. Kalau hujan, ada anak-anak yang bersihin kaca mobil. Di Korea, pekerjaan seperti ini nggak ada,” kata Park Nam dengan nada heran. “Kadang ada juga yang menawarkan jasa ojek payung.”

Na Daehoon pun menambahkan perspektifnya. “Kalau di Korea, anak-anak yang bekerja seperti itu langsung dilaporkan ke polisi, ya, Guys,” ujar Daehoon. Di Korea Selatan, aturan mengenai kerja di bawah umur sangat ketat. Anak-anak dilarang bekerja, terutama dalam kondisi yang berisiko atau di pinggir jalan. “Apalagi pekerjaan di pinggir jalan itu sangat-sangat dilarang.”

Di Indonesia, pekerjaan informal seperti tukang parkir, ojek payung, atau anak-anak yang membersihkan kaca mobil di jalan adalah hal yang umum dan sering kali menjadi mata pencaharian bagi banyak orang. Sedangkan di Korea, pekerjaan semacam itu hampir nggak pernah terlihat karena aturan yang ketat tentang keselamatan dan ketenagakerjaan, terutama yang melibatkan anak-anak.

Culture Shock Ketiga: Otak Sapi di Rumah Makan Padang

Park Nam menjelaskan culture shock tinggal di Indonesia | Sumber: YouTube/AADAEHOON

Pengalaman culture shock ketiga yang mereka alami berkaitan dengan makanan khas Indonesia. Salah satu kejadian yang paling berkesan adalah saat Park Nam pertama kali mencoba otak sapi di rumah makan Padang. “Awalnya aku mengira itu adalah bakso,” kata Park Nam sambil tertawa mengingat kekeliruannya. 

“Sampai sekarang, aku masih belum bisa makan jengkol dan pete,” tambah Daehoon. Selain itu, Daehoon juga berbagi pengalamannya dengan durian. “Aku baru bisa makan durian tahun ini, setelah mencoba durian black thorn yang enak banget di Singapura.”

Meski ada beberapa makanan yang mereka belum bisa nikmati, ada juga makanan Indonesia yang sangat mereka sukai. “Aku suka banget ayam pop,” kata Park Nam. “Rasanya mirip samgyetang yang enak banget di Korea.” Na Daehoon juga menyukai berbagai hidangan Padang, terutama rendang, ayam bakar, dan sate maranggi. “Nasi Padang itu luar biasa. Setiap kali makan, rasanya selalu enak,” katanya.

Sementara itu, Jeje lebih menyukai pecel ayam karena sambalnya yang khas. “Sambalnya itu bikin ketagihan,” ujarnya. Mereka bertiga sepakat makanan Indonesia menawarkan berbagai rasa yang unik dan kaya rempah, meskipun ada beberapa yang memerlukan adaptasi lebih lama untuk bisa dinikmati.

Culture Shock Keempat: Makan di Pinggir Jalan

Na Daehoon dan Ahjussi Gaul menjelaskan culture shock tinggal di Indonesia | Sumber: YouTube/AADAEHOON

Salah satu culture shock yang cukup signifikan bagi Na Daehoon dan teman-temannya adalah kebiasaan makan di pinggir jalan, yang sangat umum di Indonesia. “Di Korea, orang biasanya berpikir dua kali sebelum makan di pinggir jalan,” cerita Na Daehoon. “Awalnya aku juga ragu dan butuh waktu untuk berani mencoba makanan kaki lima di sini.”

Park Nam pun memiliki pengalaman serupa. “Aku nggak pernah makan seafood dari pedagang kaki lima karena perutku sangat sensitif,” ungkapnya. “Minuman dingin dan makanan pedas sering bikin perutku bermasalah. Jadi aku harus sangat hati-hati dengan apa yang aku makan.”

Daehoon juga mengingat pengalaman awalnya yang nggak terlalu menyenangkan saat mencoba makanan di pinggir jalan. “Dulu waktu pertama kali coba, aku sempat diare,” katanya sambil tersenyum. “Tapi setelah beberapa kali mencoba dan tubuhku mulai terbiasa, akhirnya sekarang aku bisa menikmati makanan jalanan tanpa masalah.”

Di Korea, makanan jalanan biasanya lebih terbatas dan kebersihannya lebih diawasi, sehingga banyak orang yang ragu untuk mencoba makanan dari pedagang kaki lima saat berada di luar negeri. Di Indonesia, sebaliknya, makanan jalanan adalah bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan menawarkan berbagai macam kuliner dengan harga terjangkau.

Culture Shock Kelima: Makan Pakai Nasi

Na Daehoon, Park Nam, dan Jeje | Sumber: YouTube/AADAEHOON

Salah satu culture shock yang tak kalah menarik adalah kebiasaan makan dengan nasi di Indonesia. Kamu pernah makan nasi goreng campur mie nggak, TeMantappu? Nah, di beberapa daerah biasanya disebut nasi goreng mawut atau magelangan. “Di Korea, makan nasi goreng dengan mi itu sangat jarang terjadi,” cerita Daehoon.

Culture shock lainnya datang saat mereka pertama kali makan di restoran cepat saji di Indonesia. “Ketika memesan ayam goreng, ternyata disajikan dengan nasi,” kata Park Nam. “Di Korea, biasanya ayam goreng disajikan dengan kentang goreng atau salad, jadi melihat nasi di piring itu benar-benar aneh bagi kami.”

Na Daehoon punya cerita yang unik dan agak terbalik. Setelah tinggal di Indonesia selama enam tahun, ia kembali ke Korea dan mengalami culture shock karena nasi nggak dijual di tempat makan sana. “Saat pertama kali kembali ke Korea, aku kaget karena nggak ada nasi di menu restoran cepat saji. Aku sempat meminta nasi kepada staf restoran,” kenangnya. “Mereka bingung dan aku sampai bertanya, ‘Emang habis atau gimana?’ karena sulit percaya kalau di sana memang nggak ada nasi.”

Kebiasaan makan nasi di Indonesia tuh sangat kuat sehingga hampir setiap hidangan utama disajikan dengan nasi. Bahkan dalam situasi yang tampaknya nggak biasa bagi orang Korea, seperti makan ayam goreng di restoran cepat saji, nasi tetap menjadi pilihan utama. Hal ini berbeda dengan di Korea, di mana nasi biasanya hanya disajikan sebagai bagian dari makanan tradisional dan bukan di restoran cepat saji.


Wah, menarik sekali ya, TeMantappu? Dari cerita-cerita seru Na Daehoon, Park Nam, dan Jeje, kita bisa melihat betapa berbedanya budaya di Korea dan Indonesia. Setiap pengalaman culture shock yang mereka alami membuka mata kita tentang bagaimana hal-hal yang terlihat biasa di satu tempat bisa menjadi sesuatu yang benar-benar baru dan barangkali “terlihat aneh” di tempat lain. 

Media Sosial Na Daehoon

Mau tahu lebih banyak tentang fun fact, masakan, bahasa, trivia, fashion, sampai kultur di Korea Selatan? Ikuti media sosial Na Daehoon di bawah ini:

Tonton konten terbaru dari Na Daehoon!

Recent Posts

Hitomi talent Mantappu Corp.

Ribbon Hairstyle Ala Hitomi: Simpel dan Manis!

Hitomi berbagi variasi hairstyle dengan ribbon. Mulai dari kuncir kuda dengan kesan chic dan fresh, sampai kepang berlilit pita yang kelihatan girly. Yuk, kita simak berbagai kreasi ribbon hairstyle dari Hitomi! Siapa tahu kamu bisa menemukan gaya rambut favorit yang bisa kamu coba sendiri di rumah.

Cecilia Amalo

Cecilia Amalo Jelajahi Kantin di Osaka Shoin Women’s University

Cecilia Amalo, yang akrab dipanggil Cecil, awal tahun ini memulai petualangan barunya dengan kuliah di Jepang, lho. Ia diterima di Osaka Shoin Women’s University. Sebagai mahasiswa baru, Cecil tentunya antusias mengeksplorasi fasilitas-fasilitas kampus barunya ini. Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah kantin kampus. Di sana, banyak food truck yang berjajar menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Yuk, kita simak keseruannya!

Tomohiro Yamashita mencoba es dawet di Pasar Gedhe Solo

Tomohiro Kunjungi Pasar Tradisional di Indonesia

Tomohiro Yamashita kali ini mengunjungi salah satu pasar lokal yang terkenal di Solo, Jawa Tengah, yaitu Pasar Gede. Kira-kira, gimana, ya, reaksi Tomohiro ketika melihat pasar tradisional di Indonesia untuk pertama kalinya? Sebagaimana kita tahu, di Jepang masyarakat lebih familiar dengan supermarket yang serba modern dan efisien. Pasar tradisional di Jepang memang ada, tetapi nggak sepopuler dan semeriah pasar tradisional di Indonesia yang nyaris selalu penuhi. Jadi, yuk kita simak lebih lanjut pengalaman seru Tomohiro Yamashita saat menjelajahi Pasar Gede di Solo!