Pelajari insight kewirausahaan dari sesi From Youth to CEO bersama Nadhira Afifa di UNDIP. Mulai dari skill penting entrepreneur, cara menemukan peluang, hingga langkah membangun dan mengembangkan bisnis dari hal kecil.

Nadhira hadir sebagai pembicara dalam acara kewirausahaan di Universitas Diponegoro (UNDIP) dengan membawakan topik From Youth to CEO: Start Small, Start Now.
Di hadapan mahasiswa, ia menjelaskan bahwa perjalanan menjadi seorang entrepreneur sebenarnya bisa dimulai jauh lebih awal daripada yang banyak orang bayangkan.
Kuncinya adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil, memahami masalah di sekitar, dan terus beradaptasi seiring pertumbuhan.
Table of Contents
Kenapa Entrepreneurship Penting Hari Ini

Dalam pembukaannya, Nadhira menekankan bahwa dunia saat ini semakin membutuhkan problem solver, bukan hanya job seeker.
Banyak tantangan yang sedang terjadi, baik dalam teknologi, gaya hidup, hingga kebiasaan konsumen. Setiap tantangan itu membuka peluang bagi mereka yang mampu melihat masalah dari sudut pandang solusi.
Menurutnya, entrepreneurship nggak melulu tentang membangun perusahaan besar sejak awal, melainkan tentang keberanian menghadapi persoalan dan menawarkan nilai tambah bagi orang lain.
Di titik ini, ia mengajak mahasiswa untuk mengamati frustrasi kecil yang sering mereka alami.
Justru dari situ banyak ide bisnis ditemukan, terutama jika masalah tersebut dialami banyak orang.
Empat Skill Esensial untuk Entrepreneur
Nadhira lalu memaparkan empat kemampuan dasar yang perlu dimiliki siapa pun yang ingin terjun ke dunia kewirausahaan.
- Kemampuan untuk mengajak orang terlibat
Entrepreneur harus bisa membangun kepercayaan, menggerakkan tim, dan menciptakan cerita yang membuat orang tertarik untuk mendukung visi mereka. - Tujuan yang jelas
Tanpa arah yang konkret, energi justru habis di hal-hal yang nggak berdampak. Founder perlu mengetahui apa yang ingin dicapai dan bagaimana langkah menuju ke sana. - Nilai yang kuat
Dalam perjalanan membangun bisnis, akan ada banyak situasi yang membingungkan. Nilai pribadi dan nilai perusahaan menjadi kompas dalam menentukan keputusan. - Kemampuan adaptasi
Lingkungan bisnis berubah cepat. Founder yang bisa beradaptasi dengan perilaku konsumen, teknologi, maupun kompetisi akan lebih mampu bertahan dan berkembang.
Cara Menciptakan dan Menangkap Peluang

Setelah membahas skill, Nadhira menguraikan alur praktis bagaimana peluang bisa muncul dan diolah menjadi bisnis.
Ideation: Berangkat dari Masalah Nyata
Ide bisnis terbaik biasanya berangkat dari pertanyaan sederhana: “Masalah apa yang bikin aku frustrasi dan dirasakan banyak orang juga?”
Dari sini, seseorang bisa mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi. Semakin dekat ide tersebut dengan pengalaman pribadi, semakin mudah pula untuk memahami siapa target pasarnya.
Market Research: Mendengar Sebelum Memulai
Menurut Nadhira, banyak founder yang langsung membangun produk tanpa memahami kebutuhan pasar.
Padahal, riset pasar bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana seperti menggunakan Instagram polls, Google Form, wawancara singkat via DM, mini focus group, hingga mempelajari kompetitor.
Data yang dikumpulkan jauh lebih bernilai daripada asumsi pribadi, sehingga produk yang dibangun nantinya benar-benar menjawab kebutuhan pengguna.
Membangun Produk dengan Versi Sederhana
Langkah berikutnya adalah membuat produk versi awal yang sederhana dan bermanfaat. Dalam proses ini, penting untuk menentukan keunikan produk atau USP (unique selling point).
Untuk menemukannya, founder bisa menilai tiga hal (1) apa yang mereka kuasai, (2) apa yang diinginkan customer, dan (3) apa yang dilakukan kompetitor dengan baik.
USP menjadi dasar pembeda dalam pasar yang semakin kompetitif.
Peluncuran Produk
Pada tahap peluncuran, Nadhira menekankan pentingnya memulai dari segmen yang sudah jelas. Cerita tentang produk perlu dibagikan ke orang-orang terdekat hingga ke media sosial, sembari membangun kekuatan marketing dan kolaborasi.
Ia juga menyoroti bahwa subscription model saat ini menjadi pendekatan yang efektif karena mampu mengubah pembeli sesekali menjadi pengguna loyal yang kembali secara rutin.
Refine: Belajar dan Menyempurnakan
Setiap peluncuran pasti menghasilkan feedback. Dari situ, founder bisa melakukan penyesuaian, mengembangkan fitur baru, atau memperbaiki hal yang kurang.
Adaptasi cepat dengan perilaku pelanggan menjadi faktor besar yang menentukan keberlanjutan sebuah produk.
Scale Up
Menurut Nadhira, waktu yang tepat untuk scale up adalah ketika permintaan mulai berulang tanpa perlu usaha promosi besar-besaran.
Ini menandakan bahwa produk sudah menemukan kecocokan dengan pasar, sehingga perusahaan bisa menambah kapasitas, memperluas pasar, atau memperkuat tim.
Mindset yang Harus Dimiliki Entrepreneur
Dalam sesi mengenai mindset, Nadhira menggarisbawahi pentingnya growth mindset. Bagi entrepreneur, tantangan seharusnya dilihat sebagai kesempatan untuk berkembang, dan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Sebaliknya, fixed mindset justru membatasi karena membuat seseorang mudah menyerah dan enggan mencoba hal baru.
Selain itu, konsistensi menjadi kunci penting. Mulai dari disiplin waktu, ritme kerja, hingga kualitas produk yang dijaga secara berkelanjutan.
Ia juga menempatkan agility sebagai sifat yang sangat dibutuhkan; kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan melakukan pivot ketika dibutuhkan.
Di akhir sesi, Nadhira menyimpulkan bahwa perjalanan entrepreneur memang nggak selalu mudah.
Namun semua hal besar berawal dari langkah yang kecil dan masuk akal. Dengan terus bergerak, pengalaman akan bertambah, kapasitas berkembang, dan sesuatu yang awalnya terlihat mustahil akan terasa lebih mungkin untuk dicapai.
Lanjut Baca:
Ingin tahu lebih banyak pemikiran Nadhira tentang empati dan pendidikan? Baca artikelnya di “Pentingnya Pendidikan Empati Sejak Dini”
Penasaran bagaimana Nadhira melihat dinamika persahabatan di usia dewasa? Simak pembahasannya di “Realitas Persahabatan di Usia Dewasa”