Farhan Firmansyah berbagi pengalamannya sebagai fanboy K-Pop di KOPI RCTI+, dari Big Screen Boy, pengalaman fandom, hingga stigma, stereotipe, dan toxic masculinity yang ia hadapi. Simak selengkapnya di sini!

Fenomena cowok yang suka K-pop—atau fanboy—sering kali menjadi bahan candaan, bahkan nggak jarang dicibir. Padahal, musik bebas dari stigma gender tertentu.
Dalam survei IDN Times tahun 2019 yang meneliti demografi penggemar K-pop di Indonesia, hanya 7,9% responden yang merupakan fanboy, sementara 92,1% lainnya adalah fangirl.
Perbandingan hampir 1:12 ini menunjukkan betapa kecilnya jumlah penggemar laki-laki, sekaligus menjelaskan stigma sosial terhadap fanboy masih kuat.
Tema inilah yang dibahas dokter muda sekaligus content creator Farhan Firmansyah di acara KOPI (Kupas Obrolan Problem Masa Kini) RCTI+.
Yuk, simak selengkapnya di artikel ini!
Table of Contents
Pengalaman Farhan sebagai Fanboy

Obrolan dibuka dengan cerita Farhan kala ia menonton konser BLACKPINK di Seoul. Kala itu, wajahnya tersorot big screen stadion yang membuat Farhan dijuluki Big Screen Boy.
Farhan juga membeberkan pengalamannya menonton Hearts2Heart (H2H), idol kepunyaan SM Entertainment. Ia rela datang subuh-subuh untuk mengikuti syuting di studio langsung. Apalagi, salah satu member-nya, Carmen, berasal dari Indonesia.
Menurut Farhan, pengalaman semacam ini cuma bisa benar-benar dipahami oleh fans yang sudah rela all-out.

Selain cerita soal konser, Farhan juga membahas dunia per-fandom-an yang sering dianggap “menguras dompet”. Ia nggak menutupi hal itu, tetapi menegaskan semuanya kembali pada prioritas dan budgeting yang sehat.
Umumnya, pengeluaran fandom ke tiga kategori biar tetap terkontrol, misalnya saja
- essential: tiket konser, lightstick resmi;
- nice to have: album, photocard, pemotretan limited;
- impulse: event dadakan atau merchandise terbaru.
Perihal ini, Farhan mengungkap strateginya semasa sekolah. Tentu, ia sungkan meminta uang ke orang tua untuk membeli printilan atribut K-Pop. Sebab itu, Farhan rajin mengikuti lomba biologi untuk mengejar hadiah jutaan rupiah.
“Lomba itu biasanya biaya pendaftarannya cuma 100–200 ribuan. Tapi kalau menang bisa dapat 3, 4, sampai 5 juta. Nah, itu yang aku pakai buat beli merchandise,” ceritanya.
Farhan juga mengakui jika hobi mengoleksi atribut K-pop banyak memengaruhi gaya hidupnya. Mulai dari preferensi fashion, seperti layering dan oversized fit, skincare routine yang lebih konsisten, sampai cara ia membangun presence di kamera.
Selain dikenal sebagai fanboy, Farhan juga seorang dokter. Kalau TeaMantappu mau baca lebih banyak insight kesehatan dari dr. Farhan, cek juga artikel-artikel berikut.
dr. Farhan Firmansyah Bahas Pendidikan Seksual Remaja di SMA JAC
Sukses Jadi Dokter dan Konten Kreator? Ini Rahasia dr. Farhan Firmansyah
Stereotip Fanboy dan Toxic Masculinity

Farhan pun membuka obrolan soal tekanan sosial yang sering dialami fanboy.
Banyak orang menilai bahwa menyukai K-pop adalah “hal yang feminin” sehingga cowok dianggap nggak pantas menunjukkan hobinya.
Farhan menyebut bahwa toxic masculinity membuat sebagian cowok memilih diam atau menyembunyikan kesukaannya, hanya karena takut dicap aneh.
Padahal, kesukaannya terhadap K-pop bisa membawa banyak hal positif, misalnya munculnya rasa percaya diri, terbentuknya komunitas yang suportif, dan inspirasi untuk terus berkarya.
Pesannya, kalau hobi itu membuatmu bahagia dan nggak merugikan siapa pun, nggak ada alasan untuk malu menunjukkannya.
Fact & Curious dan QnA bareng Netizen

Di segmen Fact & Curious, Farhan diajak membaca dan menanggapi beberapa artikel serta penelitian tentang posisi fanboy dalam dunia K-pop.
Salah satu temuan yang dibahas berasal dari penelitian Ikhlasy Anugrah Marhami (2024) dari Universitas Hasanuddin, yang menyebut meskipun K-pop sangat populer, fanboy masih sering dianggap feminin; nggak sesuai dengan standar maskulinitas.
Farhan mengaku setuju dengan kesimpulan tersebut karena ia pernah merasakan komentar-komentar yang bernada mengecilkan.
Namun, ia juga menekankan jika situasi perlahan berubah. Fandom makin beragam, lebih inklusif, dan semakin banyak ruang aman bagi cowok untuk menunjukkan apa yang mereka sukai tanpa harus menutupi identitasnya.
Segmen ini berlanjut ke sesi Q&A bareng netizen. Pertanyaannya pun cukup “jujur”, mulai dari cara menghadapi cibiran karena menyukai girl group, wajarkah cowok mengoleksi photocard, sampai cara menyikapi pasangan yang nggak suka K-pop.
Fun Games, Ngetes Seberapa Kpopers-nya Farhan?

Di segmen fun games, Farhan diajak ngetes seberapa dalam pengetahuannya soal K-Pop.
Tantangan pertama adalah menebak judul dan penyanyi hanya dari potongan lagu tiga detik. Farhan sempat ragu-ragu di awal, tetapi makin lama makin pede dan tepat menebak beberapa lagu.
Masuk ke tantangan berikutnya, Yusril mengajak Farhan untuk mencoba dance challenge. Mereka menirukan koreografi dari beberapa video yang sudah diputar sebelumnya, termasuk Pink Venom dari BLACKPINK.
Adapula sesi fan chant dan mini-choreo. Farhan mengajari para host cara melakukan fanchant dasar lengkap dengan gesture yang benar.
Masih banyak momen seru yang nggak kalah menarik dari Farhan. TeaMantappu bisa menonton versi lengkapnya, termasuk sesi Fact & Curious dan fun games langsung di KOPI RCTI+ lewat platform RCTI+.
Episode lengkap Farhan Firmansyah di KOPI RCTI+
Klik di sini