Dalam Seminar Nasional PHECTOR 7.0, dr. Ekida Rehan membahas loneliness epidemic, fenomena self-diagnosis, dan tekanan budaya produktif yang dihadapi generasi muda di era digital.

Belakangan, topik kesehatan mental makin sering dibahas, terutama di media sosial. Di balik tren healing dan self-love, ada tekanan digital dan budaya produktif yang sering luput dari perhatian.
Kondisi ini bukan sekadar isu populer, tetapi juga tercermin dari data. Riskesdas 2023 mencatat prevalensi depresi paling tinggi ada pada kelompok anak muda (15–24 tahun), yaitu sebesar 2%. Anak muda menjadi kelompok paling rentan karena tekanan sosial dan ekspektasi digital yang terus meningkat.
Fenomena inilah yang dibahas dalam Seminar Nasional PHECTOR 7.0, yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman pada 1 November 2025 lalu.
Dengan tema Kesehatan Mental sebagai Fokus Terkini Penyakit Tidak Menular di Era Digital melalui Sorotan terhadap Loneliness Epidemic, Fenomena Self-Diagnosis, dan Tekanan Budaya Produktif, dr. Ekida Rehan Firmansyah, dokter sekaligus konten kreator kesehatan, hadir membagikan pandangannya seputar tantangan mental di era digital.
Yuk, simak!
Table of Contents
Kesepian di Tengah Keramaian
Di tengah dunia yang serba terhubung, banyak orang justru merasa kesepian. Fenomena inilah yang disebut loneliness epidemic, topik utama yang dibahas oleh dr. Ekida Rehan Firmansyah dalam Seminar Nasional PHECTOR 7.0.
Menurut dr. Ekida, rasa sepi saat ini bukan lagi soal kekurangan teman. Akan tetapi, karena hubungan yang semakin superfisial di dunia digital.
Kita bisa terhubung dengan banyak orang lewat layar, tetapi makin jarang punya waktu untuk benar-benar mendengarkan dan didengarkan.
Ia juga menyinggung hasil survei global yang menunjukkan peningkatan perasaan sepi di kalangan usia 18–29 tahun. Terutama sejak maraknya media sosial dan platform video pendek (short-form content).
“Kita hidup di era konektivitas tinggi, tetapi kualitas koneksi antar manusia justru menurun,” ujarnya.
Yuk, simak artikel Ekida lainnya di Mantappu.com!
– Kupas Tuntas Isu Kesehatan Bareng dr. Ekida Rehan: Gimana Cara Meninggikan Badan?
– Skrining Kesehatan Bareng dr. Ekida dan dr. Farhan di Kantor Mantappu
Self-Diagnosis dan Budaya Produktif
Selain kesepian, dr. Ekida juga menyoroti dua fenomena lain yang erat kaitannya dengan tekanan digital: self-diagnosis dan budaya produktif (hustle culture).
Fenomena self-diagnosis memang bisa meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental, tetapi di sisi lain berisiko menimbulkan overdiagnosis dan stigma diri, apalagi jika dilakukan tanpa panduan profesional.
Budaya kerja tanpa henti juga menjadi beban baru di era digital. Banyak orang takut terlihat malas, padahal yang mereka butuhkan sebenarnya adalah istirahat.
Produktivitas itu penting, tapi kalau sampai kehilangan keseimbangan, justru bisa merusak kesehatan mental, pesannya.
Membangun Ruang Aman untuk Kesehatan Mental
dr. Ekida nggak hanya berbicara soal masalah, tetapi juga menawarkan solusi. Ia membagikan strategi sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari: mengatur batas waktu layar (screen time), melatih percakapan mendalam, dan mempraktikkan self-compassion.
Bagi institusi seperti kampus dan tempat kerja, ia menekankan pentingnya layanan konseling yang mudah diakses, pelatihan literasi media, serta program peer-support agar individu merasa lebih didukung, bukan dihakimi.
“Institusi pendidikan dan tempat kerja punya peran besar dalam membangun ekosistem yang lebih empatik dan realistis terhadap tekanan mental,” ujar dr. Ekida.
Menumbuhkan Empati di Era Digital
Sebagai penutup, dr. Ekida mengajak peserta untuk memulai dari hal paling sederhana: membangun empati.
Empati bukan hanya tentang memahami orang lain, tetapi juga tentang mengenali batas diri dan berani mencari bantuan saat dibutuhkan.Lewat seminar ini, dr. Ekida mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental nggak berhenti di tren healing atau self-love. Yang penting adalah belajar menjaga diri agar tetap waras dan tenang di tengah derasnya arus digital.