Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

dr. Ekida Rehan Bahas Gaya Hidup Sehat untuk Cegah Diabetes di FK Udayana

November 14, 2025

by Fahma Ainurrizka

|

dr. Ekida Rehan Firmansyah menjadi pembicara dalam gelar wicara (talkshow) kesehatan HMKM 2025 FK Udayana. Ia mengajak generasi muda membangun gaya hidup sehat lewat prinsip GULOH–CISAR untuk mencegah diabetes sejak dini.

Poster acara talkshow kesehatan bersama dr. Ekida Rehan Firmansyah di FK Udayana dengan tema Building a Healthy Lifestyle to Prevent Diabetes | Sumber: Dok. Mantappu Corp. 

Kamu suka minuman manis atau soda? Hati-hati, kebiasaan kecil itu bisa menjadi awal dari masalah besar.

Penyakit diabetes selama ini sering dianggap sebagai “penyakit orang tua”. Padahal, menurut dr. Ekida Rehan Firmansyah, ancamannya bisa muncul jauh lebih cepat kalau kita lalai menjaga gaya hidup.

Pesan itu disampaikan dr. Ekida dalam gelar wicara (talkshow) kesehatan oleh HMKM 2025 Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK UNUD) yang digelar pada 26 Oktober 2025 dengan tema Building a Healthy Lifestyle to Prevent Diabetes.

Di hadapan peserta yang sebagian besar mahasiswa kedokteran, ia mengajak generasi muda untuk mulai memperhatikan pola hidup sehat sebagai langkah nyata mencegah diabetes sejak dini.

Mengenal Diabetes Lebih Dekat

Dalam sesi pembuka, dr. Ekida menjelaskan dasar pengertian diabetes melitus.

“Istilah diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘pancuran’, dan melitus berarti ‘madu’ atau ‘gula’. Secara sederhana, ini menggambarkan kondisi di mana tubuh mengeluarkan urine yang mengandung gula—itulah kenapa dikenal juga sebagai penyakit kencing manis,” jelasnya.

Ia menjelaskan, diabetes adalah gangguan metabolik yang membuat tubuh nggak bisa menggunakan insulin dengan optimal.

“Kalau dulu kita pikir diabetes hanya dialami orang tua, sekarang pasien muda juga banyak. Jadi bukan cuma faktor keturunan, gaya hidup punya pengaruh besar,” tambahnya.

Lonjakan Kasus Diabetes di Indonesia

dr. Ekida turut menyoroti meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia.

Berdasarkan laporan terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) 2025, tercatat lebih dari 20,4 juta orang di Indonesia hidup dengan diabetes.  Angka ini menunjukkan prevalensi sebesar 11,3%, lebih tinggi dibanding rata-rata Asia Tenggara yang berada di angka 10,8%. 

Artinya, lebih dari 1 dari 9 orang dewasa di Indonesia mengidap diabetes, dan jumlah ini kemungkinan terus meningkat seiring perubahan pola makan, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik.

Faktor Risiko yang Sering Diabaikan

dr. Ekida menjelaskan, ada banyak faktor yang bisa memicu diabetes dan sebagian besar sebenarnya bisa dicegah.

“Kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan lemak, obesitas, dan stres jangka panjang adalah pemicunya. Selain itu, riwayat keluarga, masa kehamilan, atau konsumsi obat tertentu juga bisa meningkatkan risiko,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya deteksi dini. Pemeriksaan kadar gula darah puasa (GDP), dua jam setelah makan (GD2PP), atau Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) bisa membantu mendeteksi sejak awal.

“Kadang gejala klasik seperti sering haus, lapar, dan buang air kecil di malam hari dianggap sepele. Padahal itu sinyal dari tubuh yang nggak boleh diabaikan,” ujarnya.

Ingin tahu topik kesehatan lain yang pernah dibahas dr. Ekida?
Baca juga dua artikelnya di Mantappu.com berikut.

Dokter Ekida: Bahaya Cuci Hidung dengan Air Keran
Ekida Rehan: Lika-Liku sebagai Dokter dan Content Creator 

Prinsip GULOH–CISAR: Panduan Sehat Anti-Diabetes

Untuk membantu peserta menerapkan hidup sehat secara sederhana, dr. Ekida memperkenalkan prinsip GULOH–CISAR, sebuah panduan praktis agar tubuh tetap bugar dan kadar gula terjaga.

  • G (Glukosa): batasi konsumsi gula tambahan
  • U (Uric acid): hindari makanan tinggi purin seperti jeroan, alkohol, dan emping
  • L (Lipid): kurangi makanan berlemak, santan, atau yang digoreng berulang
  • O (Obesitas): jaga berat badan ideal lewat pola makan seimbang
  • H (Hipertensi): batasi garam berlebih
  • C (Cigarette): berhenti merokok
  • I (Inactivity): lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari
  • S (Stress): kelola stres lewat hobi, meditasi, atau istirahat cukup
  • A (Alcohol abuse): hindari alkohol
  • R (Regular check-up): rutin periksa kadar gula darah.

“Menjaga pola makan, tidur cukup, olahraga teratur, dan berpikir positif bisa jadi obat pencegah paling ampuh,” kata dr. Ekida.

Sebagai penutup, dr. Ekida mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup nggak harus besar untuk membawa hasil nyata.

“Mulailah dari hal kecil: ganti minuman manis dengan air putih, jalan kaki ke kampus, tidur cukup, dan belajar mengelola stres. Tubuh kita akan berterima kasih nanti,” ujarnya.