Memasuki 2026, ini saatnya berhenti merasa paling tahu. Jerome Polin berbagi pelajaran tentang keberanian bertanya, mengakui keterbatasan, dan belajar bersama untuk terus bertumbuh. Simak selengkapnya di sini!

Mungkin kamu pernah mendengar, atau bahkan mengalaminya sendiri, ungkapan, “Masa gitu aja nggak tahu, sih?” yang datang entah dari teman, kerabat, atau rekan kerja.
Seolah nggak tahu adalah kesalahan. Padahal, bukankah justru di situlah “letak asyiknya”? Sebab, di situlah proses belajar dimulai.
Semakin lama seseorang belajar, semakin paham kalau yang paling berbahaya bukanlah ketidaktahuan, melainkan perasaan sudah paham. Merasa cukup. Merasa sudah sampai di titik di mana belajar nggak lagi diperlukan.
Menarik bukan? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dari Jerome di sini!
Akademis Mengajarkan Cara Berpikir, Bukan Cara Hidup
Dunia akademis mengajarkan cara berpikir, cara memecahkan masalah, cara menerima kesalahan, lalu cara mencoba lagi. Prosesnya jelas, yaitu salah, evaluasi, perbaiki. Semuanya terasa logis dan terstruktur.
Jerome Polin tumbuh dari lingkungan seperti itu. “Banyak orang kenal aku dari (konten) matematika, dari dunia akademis, dari hal-hal yang kelihatannya rapi dan logis. Dan memang akademis-lah yang membentuk aku. Ia mengajarkan aku cara berpikir, memecahkan masalah, menerima salah, lalu mencoba lagi,” tutur Jerome.
Di luar akademis, Jerome menyadari bahwa hidup punya aturan berbeda. “Hidup mengajarkan bahwa apa yang kita pahami itu terbatas. Dan batas itu sering kali baru terasa saat kita bertemu dengan orang lain,” lanjut Jerome.
Di dunia nyata, nggak semua hal memiliki jawaban tunggal. Nggak semua masalah bisa diselesaikan dengan rumus. Kerap kali, pemahaman yang kita anggap sudah cukup ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan.
Batas itu benar-benar terasa ketika perspektif kita diuji; saat kita bertemu orang lain, mendengar sudut pandang berbeda, dan menyadari kalau hal yang selama ini dianggap “benar” hanyalah satu dari banyak kemungkinan.
Baca Juga: Sepekan Menjadi Jerome Polin: Saat 24 Jam Sehari Terasa Kurang
Pintar Saja Nggak Cukup

Kesadaran inilah yang membuat Jerome menjadikan konten sebagai medium belajar. Ketika mencoba menjelaskan sesuatu kepada orang lain, ia menyadari bahwa pemahamannya kembali diuji; apakah ia memang paham atau hanya merasa paham?
Proses menjelaskan kepada orang lain memaksa kita merapikan pikiran, menyusun ulang logika, dan menghadapi celah-celah yang sebelumnya tak terlihat.
Lebih lanjut, Jerome bercerita kalau pengalamannya di Mantappu Academy membantunya membuka pelajaran yang nggak pernah diajarkan di buku pelajaran.
Kolaborasi nggak selalu nyaman karena ia menantang ego; memaksa kita mendengar. Bahkan, kadang membuat kita harus mengakui kalau ada banyak hal yang belum kita kuasai; dan itu nggak apa-apa. Justru di situlah proses belajar yang sebenarnya terjadi.
Belajar Dimulai dari Mengakui “Aku Belum Tahu”
Dibutuhkan keberanian untuk mengakui kalau kita belum tahu. Bahwa kita punya banyak keterbatasan. Bahwa kita nggak selalu bisa, nggak selalu benar, dan nggak selalu paling paham.
Mengakui hal itu memang nggak mudah. Ada rasa nggak nyaman. Ada ego yang harus diturunkan. Namun, tanpa titik ini, proses belajar akan terhenti.
Pertumbuhan (growth) datang dari keberanian untuk terus bertanya. Dari kesediaan untuk “terlihat tidak tahu” di depan orang lain. Sebab, kita sadar kalau belajar adalah proses yang nggak pernah selesai.
Jadi, beranikah kamu mengakui kalau masih banyak yang hal yang belum kamu pahami?

