Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Belajar Membaca Arah Karier ala Wisnu Murti di Career Insight 2025

November 25, 2025

by Fahma Ainurrizka

|

Pelajari sudut pandang karier dari Wisnu Murti di Career Insight 2025. Ia membagikan pengalamannya bekerja di industri FMCG dan pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan kerja yang serba cepat (fast pace). Murti juga menguraikan strategi realistis untuk memulai pindah jalur karier dari nol.

Poster Career Insight dengan Wisnu Murti sebagai pembicara | Sumber: Career Insight 2025 BEM FEB UB

Dalam rangkaian Career Insight 2025 oleh BEM FEB UB pada 27 Oktober lalu, yang mengusung tema Find Your Path: Career Insight for The Next Generation, Wisnu Murti berbagi obrolan seputar cara membangun karier yang relevan, adaptif, dan tetap sehat secara mental. 

Ia mengangkat isu yang dekat dengan pekerja, mulai dari tekanan kerja hingga dilema ketika ingin banting setir setelah bertahun-tahun berada di jalur yang sama. 

Simak cerita lengkapnya di sini!

Di Balik Ritme Cepat FMCG dan Realita Kesehatan Mental Pekerja

Wisnu Murti sebagai pembicara di acara Career Insight 2025 | Sumber: Dok. Mantappu Corp.

Murti membuka sesi dengan berbagi pengalaman pribadinya selama bekerja di industri FMCG. Sektor ini dikenal dengan ritme kerja yang cepat, tuntutan adaptasi tinggi, dan hampir nggak pernah memberi ruang untuk mengambil jeda. 

Ritme seperti itu mempercepat proses belajar, tetapi bisa menguras mental jika seseorang nggak punya sistem pendukung yang memadai.

Apa yang Murti ceritakan sebenarnya mencerminkan kondisi dunia kerja hari ini secara lebih luas. 

Data menunjukkan bahwa tekanan serupa juga dialami banyak pekerja di berbagai sektor. Menurut Kartika Amelia dari Human Care Consulting (HCC), lebih dari 52% karyawan mengalami burnout atau kelelahan kerja kronis.

Laporan SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health juga memperlihatkan bahwa empat dari sepuluh pekerja merasa pekerjaan mereka berdampak negatif terhadap kesehatan mental.

Tekanan ini semakin berat bagi generasi pekerja paling muda. Sebanyak 91% Gen Z melaporkan tantangan kesehatan mental, dan 35% di antaranya mengalami depresi; angka yang menunjukkan bagaimana pola kerja modern semakin kompleks dan menuntut banyak hal sekaligus.

Dengan kondisi seperti ini, pesan Murti terasa semakin relevan. Ia menekankan bahwa rasa nggak nyaman akibat faktor eksternal itu valid dan penting untuk dikenali sejak awal.

“Kalau ada faktor eksternal yang ngebuat kalian nggak nyaman, feelings kalian itu valid. Kalian bisa mencari solusi, either ke psikolog atau orang yang kalian percaya,” jelasnya.

Ketika Ingin Pindah Jalur Karier

Wisnu Murti sebagai pembicara di acara Career Insight 2025 | Sumber: Dok. Mantappu Corp. 

Belakangan ini, istilah job hugging sering muncul di berbagai diskusi soal karier.

Fenomena ini terjadi ketika seseorang tetap bertahan di pekerjaan yang sebenarnya sudah nggak lagi membuatnya berkembang atau nggak lagi memberikan kebahagiaan, semata-mata karena merasa lebih aman di zona yang familiar. 

Rasa takut terhadap risiko dan ketidakpastian akhirnya membuat banyak orang “memeluk” pekerjaan yang sama terus-menerus.

Dalam konteks inilah pembahasan Murti terasa relevan. Ia menyoroti situasi yang sering dialami pekerja muda: sudah beberapa tahun di satu bidang, misalnya tiga tahun di logistik, tetapi mulai tertarik pindah karier ke marketing atau dunia kreatif lainnya.

Menurut Murti, keinginan ini sangatlah wajar. Yang penting, langkahnya direncanakan dengan realistis, bukan karena impuls atau ikut-ikutan tren. 

Saran pertamanya adalah mendekat ke orang-orang marketing terlebih dahulu. Bukan sekadar tanya dari jauh, tetapi ngobrol, mengamati cara mereka bekerja, dan memahami ritme hariannya. 

Dari sana, seseorang bisa menilai apakah role itu benar-benar cocok dengan preferensi kerja dan kapasitas dirinya.

Kalau sudah memiliki gambaran, barulah masuk ke langkah berikutnya: mencoba area planning selama satu sampai dua tahun. Posisi ini dapat menjadi jembatan ideal antara logistik dan marketing. 

Kemampuan analitis tetap terpakai, tetapi di saat yang sama seseorang bisa belajar pola kerja marketing secara lebih konkret. 

Kalau TeaMantappu ingin mengikuti cerita dan insight lain dari Wisnu Murti, langsung saja jelajahi laman Murti untuk membaca lebih banyak perspektif dan pengalaman lainnya.