Get In Touch
Menara Caraka, Lantai 12, Jl. Mega Kuningan Barat, Blok E4 7 No. 1, Kawasan Mega
Kuningan, Jakarta 12950
Work Inquiries
partnership@mantappu.com
(+62) 818 0401 3060

Diary of Karjimut: Konten Humor-Satir Murti tentang Realita Kerja di Indonesia

February 23, 2026

by Fahma Ainurrizka

Wisnu Murti—karyawan Amazon Web Services (AWS) sekaligus content creator yang kerap membahas suka-duka dunia korporat ini—memperkenalkan istilah karjimut (karyawan bergaji imut) lewat konten satir yang relate dengan realita pekerja Indonesia. Simak selengkapnya di sini!

Tahukah kamu istilah slang karjimut? Karjimut adalah kependekan dari karyawan bergaji imut; sebuah sebutan satir untuk pekerja yang kerja kerasnya nggak selalu sebanding dengan nominal gajinya. Boleh dibilang, hustle maksimal, saldo minimal. 

Istilah ini muncul dari realita yang banyak dirasakan pekerja di Indonesia; upah minimum yang masih jauh dari kata layak, sementara biaya hidup terus naik tanpa kompromi.

Belakangan, Wisnu Murti—karyawan Amazon Web Services (AWS) sekaligus content creator di bawah talent management Mantappu Corp. ini—kerap mengangkat istilah karjimut dalam kontennya. 

Pensaran? Yuk, simak selengkapnya di sini!

Kerja 9 to 5, Pikiran 24/7

Cuplikan konten karjimut; kerja sampai lidah terasa pahit | Sumber: TikTok/@murtiws

Pernahkah kamu bangun pagi dengan lidah terasa pahit karena hal pertama yang terlintas di kepala adalah kerjaan? 

Sekarang, banyak orang nggak hanya merasa capek secara fisik, tetapi juga secara  mental. Jam kerja mungkin 9 to 5, tetapi pikirannya aktif 24/7. Ibaratnya, baru membuka mata, langsung cek email; belum sarapan, sudah mikirin meeting. 

Bahkan, pernah ada yang mengirim direct message ke Murti, “Bang, gue mimpi jadi Microsoft 365.” Sungguh tak masuk logika, bukan? 

Menurut Murti, kalau bangun tidur saja sudah langsung mikirin kerjaan—atau bahkan memimpikannya—itu tanda toxic productivity. Produktif bukan lagi karena alasan ingin berkembang, tetapi karena tertekan. Karena takut ketinggalan. Karena merasa harus selalu siap setiap saat.

Dalam salah satu videonya, ia kurang lebih menyampaikan, “Kalau bangun tidur langsung mikirin kerjaan atau mimpiin kerjaan, itu artinya sudah toxic productivity. Community kita udah nggak sehat, sih, Mut. Buat para atasan, tolong kalau ngasih kerjaan sewajarnya manusia aja. Buat Karjimut, semangat, ya! Sukses buat hidup kalian.”

Hidup Karjimut yang melawan. Simak videonya di sini!

Karjimut sebagai Penopang Devisa Keluarga

Cuplikan konten karjimut penopang devisa keluarga | Sumber: TikTok/@murtiws

Murti menyebut karjimut sebagai “penopang devisa keluarga.” Maksudnya, banyak pekerja muda yang nggak hanya menghidupi diri sendiri, tetapi juga keluarga, khas generasi sandwich. 

Dalam salah satu videonya, Murti menggambarkan isi kepala Karjimut di Senin pagi, “Orang tua umur 50-an, nggak ada tabungan atau uang pensiun. Masih punya adik yang perlu biaya. Kamu kepikiran gimana support mereka, sambil mikirin gimana support hidup kamu sendiri.”

Di titik ini, Karjimut menjelma menjadi sosok tulang punggung keluarga dengan daya beli yang terbatas. Bukan karena malas. Bukan karena kurang usaha. Namun, memang karena ruang geraknya sempit.

Alhasil, banyak anak muda pada akhirnya harus realistis sejak awal. Idealisme soal passion atau “cari pengalaman dulu” sering kali kalah oleh kebutuhan yang lebih mendesak. 

Kamu anak pertama? Konten Murti ini patut kamu tonton di sini, ya!

Bagaimana Kalau  Kamu Terdampar di Pulau Terpencil bersama Atasan?

Cuplikan konten karjimut terdampar di pulau terpencil bersama atasan | Sumber: TikTok/@murtiws

Bayangkan kamu terdampar di pulau terpencil bersama atasan. Kira-kira, apa yang terjadi?

Ya kerja, lah. Mau berharap apa? Hihi. 

Selama zombie apocalypse belum datang dan menghapus peradaban, meeting tetap berjalan. Selama frasa izin jump in masih eksis dan diucapkan 33 kali dalam sehari, diskusi akan tetap berlanjut.

Satu lift saja kadang sudah bikin canggung dan bikin pengin muntaber (kata Murti), apalagi satu pulau. Berdua doang pula. Belum lagi, gimana kalau terdamparnya sambil bawa laptop? Sudah pasti bukan survival yang dibahas duluan, tetapi agenda. Meeting berdua. Town hall berdua. Evaluasi kinerja di bawah pohon kelapa.

Merasa relate sambil menahan tawa? Yuk, tonton videonya di sini.

Sebagai Lulusan Teknik Kimia, Murti Memilih Kerja di Balik Laptop

Sebagai lulusan teknik kimia, kenapa Murti akhirnya memilih kerja di balik laptop? Bukankah kebanyakan lulusan teknik kimia identik dengan pabrik, tambang, atau lapangan industri?

Murti sudah kebal dengan pertanyaan itu. Ia mengaku menikmati masa kuliahnya. Suka dengan mata kuliah teknik kimia, paham ilmunya, dan nggak merasa salah jurusan. 

Namun, setelah lulus, jalannya berbelok. Ia memilih bekerja di balik laptop; bahkan sekarang dikenal sebagai content creator. Jelas bukan jalur yang linear.

“Waktu pertama nyari kerja, motivasi gue yang pertama uang, kedua uang, ketiga uang. Namanya juga sandwich gen. Ujung-ujungnya cari makan bukan cuma buat diri sendiri. Jadi gue nggak bisa tuh ngikutin kata-kata motivator ‘fresh graduate cari pengalaman dulu, bukan gaji’. Kalau gitu keluarga gue makan apa?” ujarnya.

Sebagai generasi sandwich, ia nggak punya ruang untuk idealisme terlalu lama. Kedengarannya pragmatis, tetapi bagi Murti itu realistis. Mencari pengalaman tanpa memikirkan gaji (dan berakhir menjadi karjimut) bukanlah pilihan yang bisa ia ambil.

Sebab itu, Murti memilih perusahaan yang bisa langsung “menghidupinya”, meski tak sejalan dengan jurusannya. Yang penting stabil dulu.

Lalu bagaimana kalau ia lulus di tahun sekarang? Apakah jawabannya akan berbeda? Kemungkinan besar tetap tidak linear. Bedanya, mungkin kali ini bukan semata soal tuntutan ekonomi keluarga, tetapi juga karena lapangan kerja yang makin sempit. 

Kendati begitu, Murti percaya nggak ada jurusan yang sia-sia. “Kuliah jurusan apa pun nggak ada yang nggak berguna. Spesifik teknik kimianya mungkin nggak gue pakai, tapi cara analisis dan problem solving-nya kepakai banget di kerjaan gue sekarang,” tutupnya.

Pernah ada di posisi yang sama? Simak kisah Murti di sini.

Karjimut, Mari Merapat!

Cerita-cerita konyol (tetapi menyentil) dari Murti ternyata relate dengan pengalaman banyak orang.

Ikuti Murti di TikTok dan Instagram supaya nggak ketinggalan konten-konten terbarunya. 

Karjimut seluruh Indonesia, bersatulah!

Recent Posts

Na Trio Family: Keseharian Na Daehoon dan Ketiga Anaknya

Na Daehoon memiliki konten bertajuk Na Trio Family yang menampilkan kesehariannya sebagai ayah bersama Na Junho, Na Eunho, dan Na Jena. Kamu bisa menonton aktivitasnya mulai dari bermain hingga menghabiskan waktu bersama di rumah. Yuk, simak konten Daehoon satu ini di sini!