Ngopini (Ngopi sambil Beropini) adalah segmen konten TikTok dari Normanela yang membahas dinamika relationship mulai dari green flag dan red flag hingga waktu putus, detachment, dan move on. Simak selengkapnya di sini!
Di tengah ramainya konten opini soal relationship yang berseliweran di FYP TikTok, Normanela memiliki segmen serupa bernama Ngopini (Ngopi Sambil Beropini).
Apa itu Ngopini?
Sesuai namanya, Ngopini adalah ruang bagi Nela untuk ngobrol santai sambil menyampaikan opininya soal relationship. Topik yang dibahas pun dekat dan lekat dengan keseharian, mulai dari pacar, pertemanan, keluarga, sampai urusan putus dan move on.
Hingga kini, Ngopini sudah memasuki episode ke-29 dan masih terus berjalan. Berikut beberapa topik yang belakangan ramai dibicarakan di Ngopini!
Table of Contents
Friendly Boleh, Flirty Jangan!

Friendly itu green flag nggak, sih, TeMantappu? Di Ngopini, Normanela menjawab iya—asalkan tahu batasnya.
Menurutnya, orang yang friendly (ramah), berani menyapa duluan, dan nyaman ngobrol dengan siapapun biasanya memiliki kemampuan komunikasi yang sehat. Mereka nggak canggung dalam membangun relasi dan paham cara membawakan diri. Dalam hubungan, itu jelas nilai plus!
Lalu, bagaimana kalau keramahan itu terasa berlebihan?
Di sinilah Nela membedakan friendlydan flirty. Friendly berarti terbuka dan sopan. Flirty, sebaliknya, adalah saat seseorang sengaja memberi sinyal, membuat orang lain berharap, lalu berlindung di balik alasan, “Aku orangnya memangfriendly.” Buat Nela, itu red flag!
Adapula, red flag yang sering keliru dianggap romantis. Kamu pasti familiar dengan trope ala Wattpad; si tokoh utama laki-laki bersikap “jahat ke semua orang, tetapi baik ke perempuan yang ia sukai.” Sekilas memang terasa spesial, seolah kita satu-satunya yang diperlakukan berbeda.
Namun, menurut Nela, pola seperti itu justru perlu diwaspadai. Jika seseorang bersikap baik hanya karena sedang punya rasa, bukan karena memang memiliki ketulusan hati, maka ketika perasaannya berubah, perlakuannya pun bisa ikut berubah.
Setuju nggak dengan pendapat Nela? Tonton pembahasan lengkapnya di Ngopini, ya!
Kamu tim mana? Friendly green flag ataured flag? Jawabannya ada di Ngopini!
Slow to Dating, Fast to Breakup

Topik lain yang dibahas Normanela di Ngopini adalah soal putus. Ia membuka dengan satu kalimat, “If you are not happy being single, you’re never going to be happy in a relationship.”
Dari situlah, pembahasan mengarah ke satu pertanyaan, sebenarnya kapan waktu terbaik untuk mengakhiri hubungan?
Menurutnya, banyak orang sebenarnya sudah tahu jawabannya; lanjut atau selesai. Yang membuat ragu biasanya bukan perasaan itu sendiri, melainkan ketakutan setelah putus; takut sendirian, kehilangan rutinitas chat tiap hari, atau merasa hidup tiba-tiba kosong.
Sebab itu, Nela menegaskan nggak ada waktu yang benar-benar “pas” untuk putus. Jika menunggu momen sempurna, kemungkinan besar momen itu nggak akan datang. Waktu yang tepat adalah ketika kita sadar hubungan tersebut sudah nggak bergerak ke mana-mana; lebih banyak stres daripada bahagia, lebih sering overthinking daripada merasa tenang.
Terakhir, ia menyinggung soal respect. Jika pasangan sudah melanggar komitmen—misalnya selingkuh—itu bukan hal yang perlu diperdebatkan terlalu lama. Bagi Nela, rasa hormat adalah fondasi. Ketika itu hilang, hubungan biasanya ikut runtuh.
Selengkapnya bisa kamu simak di Ngopini episode break up, ya!
Biar nggak salah paham, langsung dengar penjelasan lengkapnya di Ngopini!
Detachment: Rindu Orangnya atau Kenangannya?

Pernah nggak kamu merasa, sudah lama nggak chat, nggak ngobrol, bahkan sudah putus, tetapi orangnya masih terus terlintas di pikiran?
Normanela mengakui, ini nggak sesederhana “move on aja.” Ada alasan kenapa kita bisa tetap attach.
Pertama, sudah banyak hal dilewati bersama. Wajar kalau ada bagian diri yang merasa tertinggal.
Kedua, terlalu banyak berandai-andai. Masih HTS atau PDKT, tetapi bayangannya sudah sampai menikah, memiliki anak, bahkan detail kecil, seperti rumah impian. Kita sering attach bukan pada realita, tetapi pada skenario di kepala.
Ketiga, soal ekspektasi. Kita merasa sudah memberi banyak sehingga berharap dia membalas dengan kadar yang sama. Saat itu nggak terjadi, kita bukan hanya kecewa, kita juga menunggu. Menunggu dia menyesal, menunggu dia sadar, menunggu dia kembali. Dan yang membuat kita sulit lepas seringkali bukan orangnya, melainkan harapan yang belum sempat padam.
“Kamu bukan kangen orangnya, kamu kangen potensi yang kamu bayangkan tentang dia,” ucap Nela. Lantas, bagaimana caranya detach?
Jawabannya terdengar klise: stop kontak, stop stalking, stop cari perhatian. Lakukan sesuatu bukan supaya dia lihat, tetapi demi diri sendiri.
Terakhir, jangan menyerah pada delusi di kepala. Kalau seseorang suka, dia akan menunjukkan. Jangan hidup dari asumsi dan harapan sepihak.
Yuk, Tonton Ngopini!
Lagi ada yang mengganjal soal hubungan? Entah itu soal sikap pasangan yang bikin ragu, keputusan putus yang belum bulat, atau mantan yang masih suka muncul di kepala. Mungkin obrolan Ngopini bisa jadi teman mikir.
Tonton langsung di TikTok Normanela!



